Membaca Buku Quantum Writing (Editor Hernowo) Bag. 3

Pukul 21:27

Pembaca yang hebat adalah penulis yang hebat pula. Saya kira itu yang bisa saya petik pada bab tiga di buku Quantum Writing. Saya sepakat dengan hal ini. namun tentu ini berlaku bagi yang menulis. Sedangkan pembaca yang hebat namun tidak menulis, barangkali tidak berlaku. Karena banyak orang yang kita temukan adalah orang yang gemar membaca namun terkadang ia tidak menulis, atau barangkali ia tidak bercita-cita menjadi penulis. Banyak kan? Beda dengan orang yang suka membaca dan menulis, pasti tulisannya akan padat berisi akibat dari referensi yang melimpah di kepalanya. 



Saya juga menangkap pesan di bab ini bagaimana pentingnya membaca bebas dan dan sengaja (MBS), yang merupakan istilah yang baru pertama kali saya dengar. Namun bukan berarti asing bagi saya. Karena sebetulnya pernah juga saya lakukan waktu dulu. Contohya jika dahulu saya suka sekali membaca buku-buku novel remaja, itu terjadi karena saya memang membebaskan diri untuk membaca. Membaca buku itu saya lakukan tidak dalam rangka memenuhi tugas-tugas sekolah. Namun berdasarkan kesenangan saja. hingga pada akhirnya saya merasakan manfaat dari membaca buku itu. Pertama kali saya bisa merasakan manfaat membaca bebas adalah ketika membaca novel seri budi pekerti yang berjudul “Pelangi di Senja Hari”, novel tersebut benar-benar memberikan pengalaman batin buat saya. Dari situ pula saya mulai gemar membaca novel untuk pertama kalinya.


Sementara untuk membaca sengaja saya melakukannya ketika masih di sekolah. Saya sering membaca cerpen untuk kemudian ditelaah unsur intrinsiknya. Hal itu saya lakukan untuk memenuhi tugas telaah prosa. Saya pun mendapatkan hal positif dari kegiatan tersebut. Dari situ saya benar-benar bisa menganalisis sebuah cerita pendek kemudian menuliskannya dalam bentuk laporan ilmiah. 


Nah, dari kedua contoh cara membaca tersebut memang sangat mempengaruhi kegiatan menulis saya saat ini. ketika saya membaca novel maka saya akan mendapatkan cara menulis novel, termasuk gaya menulis novel. Berikutnya ketika saya membaca disengaja untuk tujuan tertentu, saya juga memberikan dampak kepada tulisan saya yang bergaya ilmiah.


Hal yang bisa saya tangkap selanjutnya dari bab tiga buku Quantum Writing adalah tentang dua tokoh penulis besar di dunia barat yakni JK Rowling dan Stephen King. Terus terang sampai saat ini saya belum pernah menghabiskan membaca karya-karya sastra yang ditulis oleh penulis-penulis barat. Meskipun ceritanya tidak terlalu panjang sekalipun. Semisal The Old Mand and The Sea dalam versi Indonesianya, sampai kini belum bisa saya habiskan untuk membaca. Padahal sebetulnya ingin sekali saya menikmati jalan ceritanya, tapi sungguh tidak bisa saya menangkapnya. Ada apakah gerangan? Apakah mungkin karena banyaknya istilah-istilah asing? Atau mungkin karena nama-nama tempat atau nama-nama tokoh yang asing pula? Kecuali satu buku yang pernah habis saya baca yaitu buku yang berjudul Perburuan, yang saya lupa pengarangnya siapa. Buku itu pernah saya baca ketika masih sekolah dulu, dan saya sangat senang membacanya. Buku tersebut juga termasuk salah satu buku yang menginspirasi saya saat itu. Pesan moralnya sangat kuat mengenai berbuat baik kepada binatang.


Kembali ke JK Rowling dan Stephen King. Dua penulis ini memang sudah terlalu sering saya dengar berkat para penulis yang banyak membangga-banggakannya. Terutama JK Rowling dengan Harry Potter-nya. Sampai sekarang buku Harry Potter itu seperti apa sih, jika ada mungkin saya juga tidak akan mau membacanya. Bukan berarti saya tidak suka, akan tetapi saya terkadang agak jenuh dengan nama-nama tokoh asing, begitu pula dengan kehadiran alur cerita yang begitu padat. 


Barang kali memang saya adalah pembaca yang masih kurang membaca. Buktinya, jika ada tulisan yang agak gelap dan berat saya akan melepasnya. Dan nyatanya saya masih lebih suka dengan bacaan-bacaan ringan. Semacam seri budi pekerti, buku-buku pembangan diri, cerpen-cerpen pengarang Indonesia, dan lain-lain. Ada pun membaca buku-buku luar negeri saya masih belum berani menjamin kalau saya akan suka membacanya. 


Terlepas dari suka atau tidaknya membaca buku-buku Barat, namun yang jelas saya mengakui kedua penulis tersebut memang patut dicontoh. Mereka selalu membuat kita ingin menulis jika membaca nasihat-nasihatnya. Saya pernah mengutip banyak nasihat menulis dari Stephen King dan saya posting di blog. Dan setiap kali saya membacanya, saya tidak pernah bosan, dan selalu menginspirasi saya. Tapi saya tidak tahu apakah saya juga akan terhipnotis dengan karyanya. Kalau mengambil sampel penulis-penulis barat lainnya, saya rasa belum tentu saya bisa menghabiskan membaca.


-------------------------------
Penulis: Abdul Hayyi, S.S. (Abduh Sempana)
Guru di MTs NW Boro'Tumbuh, Lombok Timur, NTB.

Anda juga bisa mengirim tulisan di Pena Basindon

komentar
Cancel

"Berkomentarlah dengan santun dan bermartabat."