Membaca Buku Quantum Writing (Editor Hernowo) Bag. 1

Setelah membaca pada bagian bab pertama buku ini pembaca dipersilakan untuk mengisi lembaran ‘mengikat makna’ sebagai sebuah refleksi terhadap apa yang baru selesai dibaca. Maka pada kesempatan ini saya sebagai pembaca akan menuliskannya di lembar catatan harian ini. 



Setelah membaca bab pertama buku tersebut saya cukup terkesan dengan pendapat atau katakanlah penelitian yang telah dilakukan oleh dua orang tokoh penulis yaitu Patima Mernisi dan Dr. Pennebeker. Yang  sebetulnya saya juga pernah membaca pendapat kedua tokoh tersebut tentang manfaat menulis pada buku yang berbeda. Tapi sepertinya di buku ini lebih lengkap.


Pertama saya akan mengomentari pendapat Patima Mernisi. Beliau mengatakan bahwa menulis lebih baik dari operasi pengencangan kulit wajah. Saya pun akan mulai berkomentar dengan menyatakan, sah-sah saja beliau mengatakan seperti itu karena mungkin beliau telah menjalaninya bertahun-tahun dan menemukan kadar manfaatnya terutama bagi beliau. Maka menurut saya bila Fatima Mernisi saja bisa berpendapat seperti itu maka saya pun bisa berpendapat dengan menyatakan hal yang sama. Hal ini tentu berdasarkan pengalamah sehari-hari saya juga. Entah mengapa orang-orang sering mengatakan begini, “Tahun berapa Anda lahir?” saya menjawab tahun “1983”. Lalu mereka berkomentar, “Kok Anda masih kelihatan lebih muda?”. Ini memang benar-benar terjadi. Dan tidak sekali saja saya mendengarnya dari teman-teman. Tetapi dari beberapa teman juga berpendapat seperti itu mengenai saya. Apakah ini termasuk fakta yang diungkapkan oleh Fatima? Tentu saja tidak serta-merta begitu, namun apabila dikait-kaitkan juga semestinya hal ini boleh pula disetejui meski oleh segelintir orang yang percaya, termasuk saya sendiri. Karena bukankah banyak orang yang kelihatan lebih mudah dari usianya akan tetapi dia tidak pernah menulis sama sekali? Begitu juga banyak orang lebih tua dari usianya padahal dia adalah penulis. Akan tetapi ada pula orang yang kelihatannya lebih muda dari usianya sementara ia adalah seorang penulis. 


Pelajaran yang mungkin perlu direnungkan oleh para penulis dari pendapat Mernissi tersebut adalah mengenai bagaimana upaya kita agar terus menulis. Khususnya kaum perempuan. Sehingga ada benarnya Fatima mengatakan hal seperti itu. Daripada seorang wanita duduk termenung memikirkan hal yang tidak-tidak, atau jika pun berbicara akan membicarakan aib orang, mungkin akan lebih baik  jika mereka meluangkan waktunya untuk menulis. Sehingga secara tidak langsung akan mendapatkan manfaat menulis berupa kesegarah di raut wajah.


Kemudian yang kedua, apa yang juga dikatakan oleh Dr. Pennebeker tidak jauh berbeda sebetulnya, hanya saja kalau Pennebeker lebih menyentuh ke bagian dalam. Ini memang lebih mengena. Dan saya secara pribadi juga bisa merasakannya. 


Apa yang dikatakan oleh Pennebeker itu sudah saya lakukan. Meskipun tidak kontinyu. Namun setidaknya setiap menghadapi masalah saya selalu berusaha untuk menuliskannya. Dan hasilnya saya bisa lebih tenang, dan bahkan menemukan sendiri jalan keluarnya setelah menulis sepotong atau dua potong kalimat. Ini ajaib memang. Saya pernah membuktikannya.  Yaitu dulu ketika bekerja di proyek. Saat itu terjadi gejolak di dalam jiwa saya. Entah mengapa saya benar-benar tidak bisa menerima pekerjaan itu . Saya menganggap pekerjaan tersebut sangat tidak cocok dengan karakter saya. Sehingga saya memberontak dengan cara menuliskannya di atas kertas. Setelah menulis, semua gejolak itu pun tiba-tiba sirna. Dan justeru menemukan titik yang lebih terang, misalnya saya mampu mengucapkan ‘mungkin ini jalan yang terbaik untukku saat ini, karena akan banyak pengalaman baru yang bisa saya dapatkan dari sini.’ Itulah kata-kata yang bisa mematahkan ego saya yang selalu ingin memberontak ketika itu. Karena terus terang karena ego tersebut kadang pekerjaan saya agak terganggu, terlambat, dan lain sebagainya, padahal yang menjadi tonggak kesuksesan pekerjaan tersebut adalah saya sendiri. Maka saya sangat-sangat terbantu setelah menulis pemberontakan-pemberontakan tersebut. Tahu apa yang menjadi titik akhirnya pekerjaan saya tersebut? Ternyata gara-gara pekerjaan tersebut saya bisa membangunkan diri saya sendiri jalan menuju ke rumah idaman saya. Ya, Allah...betapa ini sangat ajaib. Saya pun semakin sadar bahwa Allah SWT punya cara tersendiri untuk menolong makhluknya. Sebuah jalan yang benar-benar mendewasakan saya.


-------------------------------
Penulis: Abdul Hayyi, S.S. (Abduh Sempana)
Guru di MTs NW Boro'Tumbuh, Lombok Timur, NTB.

Anda juga bisa mengirim tulisan di Pena Basindon

komentar
Cancel

"Berkomentarlah dengan santun dan bermartabat."